DHAT oleh Kinanti (Madukina): Ini adalah lagu yang paling identik dengan filmnya. Berupa lantunan sinden dengan iringan gamelan yang kental. Liriknya mengandung makna tentang zat Maha Pencipta dan sering dianggap memiliki aura mistis karena proses pembuatannya melibatkan ritual adat Among-among di Gunung Kawi.

Dhat: Kidung Mistis di Balik Gerbang Desa Penari – Analisis Filosofi, Ritual, dan Estetika Tradisional
Oleh: MELEDAK77
Pada Tanggal: 07/01/2026
Dalam industri film, musik bukan sekadar pengiring gambar; ia adalah roh yang memberikan nyawa pada narasi. Ketika film KKN di Desa Penari meledak di pasar sinema Indonesia, salah satu elemen yang paling membekas di ingatan penonton bukanlah sekadar penampakan hantunya, melainkan alunan vokal sinden yang meliuk-liuk diiringi dentuman gamelan yang mencekam. Lagu itu berjudul “Dhat”, sebuah karya dari musisi Kinanti (yang lebih dikenal dengan nama panggung Madukina).
“Dhat” bukan hanya sebuah soundtrack. Ia adalah jembatan antara dunia nyata dan dunia gaib dalam imajinasi penonton. Keberadaannya mempertegas identitas horor lokal yang berakar pada tradisi Jawa. Mari kita bedah lebih dalam mengenai lagu ini—mulai dari proses penciptaannya yang melibatkan ritual, hingga makna filosofis yang terkandung di dalam liriknya yang wingit.
1. Madukina dan Visi Artistik “Dhat”
Kinanti, atau Madukina, adalah seorang seniman yang memiliki kedekatan personal dengan musik tradisi. Dalam menciptakan “Dhat”, ia tidak sekadar menulis lirik dan menggubah melodi. Ia membangun sebuah atmosfer. “Dhat” lahir dari kolaborasi antara elemen elektronik modern dengan instrumen tradisional Jawa, menciptakan genre yang sering disebut sebagai Indonesian Folktronica atau Javanese Gothic.
Vokal Madukina dalam lagu ini menggunakan teknik nyanyian sinden yang sangat kental. Vibrato dan cengkoknya memberikan kesan dingin dan megah. Pilihan nada-nada minor yang digunakan dalam lagu ini secara psikologis mampu memicu rasa waspada dan kecemasan pada pendengar, sangat selaras dengan tema film yang menceritakan tentang pelanggaran norma di wilayah keramat.
2. Ritual di Balik Karya: Antara Seni dan Mistisisme
Salah satu aspek yang membuat lagu “Dhat” sering diperbincangkan adalah proses produksinya. Madukina mengungkapkan bahwa dalam penggarapan lagu ini, terdapat serangkaian ritual yang dilakukan untuk menjaga “kesucian” dan mendapatkan energi yang tepat.
Ritual Among-Among di Gunung Kawi
Banyak kabar menyebutkan bahwa proses kreatif lagu ini bersinggungan dengan ritual adat Among-among yang dilakukan di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur. Ritual ini merupakan bentuk syukur dan permohonan izin kepada leluhur atau “penjaga” wilayah tersebut.
Dalam konteks penciptaan lagu horor yang mengangkat tema kearifan lokal, langkah ini dianggap penting oleh sebagian seniman untuk memastikan bahwa karya yang dihasilkan memiliki “isi” atau jiwa. Penonton dan pendengar seringkali merasakan aura yang berbeda saat mendengarkan “Dhat” di ruangan gelap; ada rasa seperti sedang diawasi, yang mungkin merupakan efek dari sinkronisasi antara niat magis sang pencipta dengan frekuensi musik yang dihasilkan.
3. Bedah Lirik: Menelisik Makna “Zat” yang Maha Kuasa
Judul lagu ini sendiri, “Dhat”, diambil dari bahasa Jawa/Arab (Dzat) yang merujuk pada hakikat keberadaan atau zat yang Maha Pencipta. Liriknya ditulis dalam bahasa Jawa kusam (kuno/puitis) yang sulit dipahami secara harfiah oleh masyarakat awam tanpa pemahaman budaya yang dalam.
Filosofi Ketuhanan dan Alam Gaib
Lirik “Dhat” sebenarnya mengandung pesan spiritual tentang pengakuan terhadap keagungan Tuhan dan posisi manusia di alam semesta.
-
Keseimbangan Alam: Liriknya menyiratkan bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh manusia. Ada “Zat” yang mengatur keseimbangan antara yang tampak (nyata) dan yang tak tampak (gaib).
-
Pengingat Dosa: Dalam konteks film, lagu ini berfungsi sebagai pengingat bagi karakter Bima dan Ayu bahwa setiap tindakan mereka dipantau oleh kekuatan yang lebih besar.
-
Kematian dan Keabadian: Melodi yang mendayu-dayu menggambarkan transisi jiwa dari raga menuju keabadian—sebuah referensi langsung pada nasib para mahasiswa yang jiwanya tertinggal di Desa Penari.
4. Estetika Gamelan dan Ketegangan Musikal
Secara teknis musikal, “Dhat” memanfaatkan instrumen gamelan bukan hanya sebagai pemanis, tetapi sebagai penggerak emosi.
-
Saron dan Bonang: Dentuman logam yang repetitif menciptakan efek hipnotis. Dalam banyak tradisi Jawa, musik gamelan tertentu digunakan untuk memanggil roh atau mengiringi tarian sakral.
-
Kendang: Pola kendang dalam lagu ini tidak ceria, melainkan berat dan tertahan, memberikan beban pada setiap langkah narasi dalam film.
-
Elemen Ambient: Penggunaan suara angin, gesekan kayu, dan reverb yang luas menciptakan ruang audio yang membuat pendengar merasa seolah-olah sedang berada di tengah hutan belantara yang sunyi namun “ramai” oleh kehadiran tak kasat mata.
5. Peran “Dhat” dalam Membangun Ikonografi Badarawuhi
Lagu ini tidak bisa dipisahkan dari sosok Badarawuhi. Setiap kali melodi “Dhat” mengalun, penonton secara otomatis akan membayangkan sosok penari cantik dengan selendang hijau yang meliuk gemulai namun mematikan.
Musik ini memberikan dimensi martabat pada sosok hantu Indonesia. Jika biasanya hantu digambarkan dengan musik yang gaduh dan mengagetkan (jump scare), “Dhat” menawarkan jenis kengerian yang elegan. Ia membangun rasa takut melalui keindahan. Inilah yang disebut sebagai the beauty of horror—dimana penonton merasa terpesona sekaligus terancam di saat yang bersamaan.
6. Dampak Budaya: Kebangkitan Musik Etnis-Horor
Kesuksesan “Dhat” memicu tren baru di industri musik Indonesia, yaitu bangkitnya minat terhadap musik etnis dengan sentuhan gelap.
-
Reapresiasi Budaya Sinden: Profesi sinden yang tadinya dianggap kuno, kembali menjadi keren dan diminati oleh generasi Z melalui visualisasi Madukina yang estetik.
-
Identitas Horor Nasional: Indonesia mulai menemukan jati diri musik horornya yang unik, yang tidak lagi mengekor gaya orkestra Hollywood, melainkan menggali kekayaan sonik nusantara.
-
Viralitas di Media Sosial: Lagu ini menjadi backsound ribuan video di TikTok dan Instagram, menjadikannya salah satu lagu tradisional-modern yang paling banyak didengar dalam satu dekade terakhir.
7. Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Lagu
“Dhat” karya Madukina adalah sebuah pencapaian artistik yang luar biasa. Ia berhasil mengemas kerumitan filosofi Jawa tentang “Zat” ke dalam format musik populer yang bisa dinikmati massa. Dengan dukungan ritual adat yang mengiringi prosesnya, lagu ini memiliki resonansi emosional yang sangat kuat, menjadikannya sebagai standar baru bagi soundtrack film horor di Indonesia.
Melalui “Dhat”, kita diajak untuk kembali merenung bahwa di dunia ini, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Ada aturan, ada etika, dan ada “Zat” yang harus selalu dihormati, dimanapun bumi dipijak.

