
Kalau lo udah ngikutin dunia hardcore/metalcore dari tahun ke tahun, nama Counterparts pasti gak asing lagi. Band asal Kanada ini dikenal sebagai salah satu band paling jujur, paling emosional, dan paling konsisten di scene melodic hardcore modern. Nah, di tahun 2022 mereka ngerilis album yang super emosional dan bisa dibilang salah satu karya paling personal mereka: A Eulogy for Those Still Here.
Dari judulnya aja udah kedengeran dalam banget, kan? Biasanya eulogy (pidato kematian) ditujukan buat orang yang udah gak ada. Tapi kali ini, Counterparts justru ngasih penghormatan buat mereka yang masih hidup tapi seolah-olah udah pergi—secara emosional, hubungan, atau mental.
Siapa Counterparts?
Sebelum kita ngebahas albumnya lebih dalam, mari kita kenalan dulu sama band ini. Counterparts dibentuk tahun 2007 di Hamilton, Ontario, dan digawangi sama vokalis Brendan Murphy yang jadi wajah dan suara utama band ini. Genre mereka? Campuran dari melodic hardcore, metalcore, dan sedikit post-hardcore. Tapi bukan cuma musik keras doang, lirik-lirik mereka selalu menyentuh tema berat kayak kehilangan, penyesalan, trauma, dan kesehatan mental.
Setiap album mereka tuh kayak buku harian yang diserbu distortion dan scream. Jadi walaupun nadanya galak, isinya selalu jujur dan penuh perasaan.
Latar Belakang A Eulogy for Those Still Here
Album ini ditulis di tengah masa yang nggak pasti, waktu Brendan merasa kayak hidupnya dan hidup orang-orang terdekatnya bakal berubah atau “hilang” kapan aja. Brendan bilang sendiri kalau banyak lagu di album ini ditulis kayak surat perpisahan sebelum semuanya beneran berubah. Bukan cuma soal kematian literal, tapi juga kehilangan emosional, orang-orang yang berubah, hubungan yang renggang, dan versi dirinya yang udah gak ada lagi.
Jadi jangan heran kalo album ini kedengeran super raw, baik dari segi sound maupun lirik.
Lagu-Lagu yang Bikin Dada Sesek
Album ini punya 11 lagu, dengan durasi sekitar 40 menitan. Tapi setiap lagu kayak hantaman langsung ke hati. Nih beberapa lagu yang paling standout:
1. “Whispers of Your Death”
Lagu pembuka ini ditulis Brendan buat kucing kesayangannya, Kuma, yang sempat hampir mati. Kedengarannya mungkin konyol buat lo yang gak punya hewan peliharaan, tapi isi lagunya tentang rasa takut kehilangan sesuatu yang sangat berharga—dan itu bisa banget dihubungin ke orang-orang terdekat lo juga. Musikalitasnya pun super agresif, tapi liriknya bener-bener dalem.
2. “Unwavering Vow”
Lagu ini bisa dibilang anthem dari album ini. Gitar riff-nya tajam, scream Brendan yang penuh emosi, dan lirik yang nunjukin kegigihan bertahan meski semua rasa sakit datang bertubi-tubi.
3. “A Mass Grave of Saints”
Track penutup yang jadi klimaks emosional dari semuanya. Lagu ini kayak semacam teriakan frustasi terakhir buat semua hal yang belum sempat diungkap. Bener-bener nutup album ini dengan energi yang ngena banget.
Sound yang Matang, Tapi Masih Brutal
Secara musikal, A Eulogy for Those Still Here gak banyak berubah secara formula dari album Counterparts sebelumnya. Tapi justru itu kelebihannya. Mereka tahu apa yang mereka kuasai—riff-riff melodic yang catchy, breakdown berat, scream emosional, dan transisi dinamis antara chaos dan ketenangan.
Yang membedakan album ini adalah nuansa depresif yang jauh lebih kuat. Ada banyak bagian gitar clean yang bikin suasana makin kelam dan reflektif. Produksinya juga lebih rapi, tapi tetap nyisain ruang buat suara-suara kasar dan mentah.
Tema yang Bikin Lo Mikir
Kenapa album ini kerasa spesial? Karena dia gak cuma ngomongin kematian orang lain, tapi juga kematian diri lo sendiri—versi lo yang dulu, harapan yang pupus, atau hubungan yang hancur pelan-pelan. A Eulogy for Those Still Here adalah semacam penghormatan untuk hal-hal yang masih ada secara fisik, tapi udah gak terasa “hidup” lagi.
Jadi buat lo yang pernah ngerasa kehilangan orang yang masih hidup, atau ngerasa hidup tapi kayak mayat berjalan, album ini bakal terasa relatable banget.
Album yang Bukan Cuma Didengerin, Tapi Dirasain
A Eulogy for Those Still Here adalah album buat lo yang udah capek sok kuat. Ini adalah musik yang nunjukin bahwa gak apa-apa ngerasa lemah, marah, atau kehilangan arah. Kadang, teriak sekenceng-kencengnya itu justru bentuk kekuatan.
Counterparts lewat album ini ngasih pesan bahwa bahkan di tengah dunia yang berubah dan penuh kehilangan, masih ada ruang buat kita ngerasa. Dan itu cukup untuk bertahan satu hari lagi.